Kadin Indonesia

Mendag RI Minta Momen Penyelenggaraan ABAC Meeting I Jakarta 2026 Dimanfaatkan Optimal, Kawasan Asia-Pasifik Diproyeksi Tumbuh 4,5%

Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) RI Budi Santoso menegaskan bahwa kehadiran para tokoh bisnis dalam agenda APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I Jakarta 2026 7-9 Februari 2026 di Hotel Shangri-La Jakarta harus dimanfaatkan secara optimal.

“Saya pikir ini penting sekali ya, karena ini di Indonesia. Jadi, kesempatan buat kita malam ini untuk mempromosikan potensi Indonesia, baik di bidang investasi maupun perdagangan, sehingga kita ini bisa menjadi pemain di APEC,” kata Budi usai menghadiri acara Welcome Reception ABAC Meeting I 2026 di Hotel Shangri-La pada Sabtu (07/02/2026) malam.

Menurut Budi, laporan Bank Dunia memproyeksikan kawasan Asia-Pasifik tumbuh sekitar 4,4% pada 2025 dan 4,5% pada 2026, masih berada di atas rata-rata pertumbuhan global. Di sisi lain, implementasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang mencakup sekitar 30% PDB dan populasi dunia terus memperdalam integrasi ekonomi regional serta memperluas akses pasar preferensial.

“ABAC dan pemerintah harus terus mendukung upaya mempromosikan pertumbuhan ekonomi di kawasan. Terlepas dari tantangan global, Asia-Pasifik tetap menunjukkan momentum ekonomi yang kuat,” ujar Budi.

Budi menambahkan, Indonesia berkontribusi signifikan melalui basis konsumen yang besar, mencapai lebih dari 280 juta penduduk, didukung industri yang semakin kompetitif serta posisi strategis dalam rantai nilai regional. Pada 2025, total ekspor Indonesia tercatat 282,9 miliar dolar AS, sementara impor sekitar 241,8 miliar dolar AS, menghasilkan surplus sekitar 41 miliar dolar AS.

“Perekonomian Indonesia juga tumbuh sejalan dengan target pertumbuhan 5,2% pada 2025 dan diperkirakan mencapai sekitar 5,4% pada 2026. Hal ini menunjukkan permintaan domestik yang tangguh serta momentum investasi yang berkelanjutan,” jelas Budi.

Lebih lanjut kata Budi, kinerja investasi Indonesia pada 2025 juga menunjukkan capaian yang sangat kuat, terutama dengan meningkatnya arus investasi asing langsung pada akhir tahun.

“Kuartal keempat 2025 mencatat rekor tertinggi foreign direct investment (FDI). Total realisasi investasi mencapai sekitar 123 miliar dolar AS, meningkat 12,7% secara tahunan di berbagai sektor strategis,” ujar Budi.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah telah membentuk sovereign wealth fund atau Danantara Indonesia sebagai instrumen strategis pembiayaan pembangunan nasional.

“Danantara berarti energi untuk menggerakkan masa depan Indonesia. Dengan hadirnya Danantara Indonesia, saat ini Indonesia adalah land of opportunity. Untuk memaksimalkan peluang tersebut, Indonesia berkomitmen menciptakan lingkungan usaha yang semakin kondusif dan dapat diprediksi,” kata Budi.

Lebih jauh, Budi mengatakan bahwa pemerintah terus mendorong kelancaran rantai pasok regional melalui penyederhanaan prosedur, percepatan layanan, serta pengurangan hambatan regulasi yang tidak diperlukan. Selain itu, Indonesia juga menekankan pentingnya dukungan terhadap World Trade Organization (WTO) sebagai fondasi sistem perdagangan multilateral.

“Kita harus bersama-sama mendukung WTO sebagai fondasi sistem perdagangan multilateral. Untuk menjaga sistem yang relevan bagi dunia usaha, diperlukan dialog terbuka dan langkah konkret menuju reformasi WTO,” tegasnya.

Dalam semangat yang sama, Indonesia juga terus memperluas akses pasar internasional melalui berbagai perjanjian perdagangan.

“Perluasan akses pasar merupakan kepentingan nasional Indonesia. Kementerian Perdagangan saat ini secara aktif mendorong agenda perdagangan internasional Indonesia, dengan sekitar 20 perjanjian perdagangan internasional yang sedang dikelola secara aktif,” pungkas Budi.

Sementara itu, Ketua ABAC Indonesia sekaligus Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie memberikan apresiasi tinggi atas dukungan pemerintah dalam gelaran ABAC Meeting I 2026.

Anindya atau Anin sapaan akrabnya mengungkapkan fakta menarik bahwa sekitar 70% dari total nilai perdagangan Indonesia berada di kawasan Asia Pasifik.

“Neraca perdagangan kita surplus 41-42 miliar dolar AS, dan 70% dari perdagangan kita ada di Asia Pasifik. Member-nya ada di sini semua,” kata Anin.

Anin juga menyoroti profil para peserta yang hadir, di mana total kapitalisasi pasar dari perusahaan-perusahaan yang diwakili mencapai angka fantastis, yakni 1,2 triliun dolar AS.

Kekuatan modal yang masif ini kata Anin dipandang sebagai peluang besar untuk menarik aliran investasi masuk ke dalam negeri guna memperkuat fundamental ekonomi nasional.

“Pak Mendag (Menteri Perdagangan RI) tadi menyampaikan dengan baik tentang stabilitas ekonomi kita, lalu keberhasilan berbagai reformasi di Indonesia. Jadi, kami sangat optimistis,” tegas Anin.

Melalui pertemuan ini, kata Anin, pemerintah dan dunia usaha sepakat untuk terus “berjualan” potensi Indonesia demi mencapai kemandirian ekonomi sesuai arahan Presiden.

“Memang counterpart ABAC dalam negosiasi adalah Kemendag (Kementerian Perdagangan RI). Kita gunakan ini untuk ‘jualan’. Indonesia butuh investasi, butuh perdagangan, sehingga kita bisa, seperti Bapak Presiden sampaikan, berdiri di atas kaki sendiri,” jelas Anin.

Sementara itu, Anggota ABAC Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Keberlanjutan Kadin Indonesia menambahkan, ABAC Meeting I 2026 Jakarta memiliki urgensi tinggi karena berfungsi sebagai wadah formulasi agenda tahunan.

Menurut Shinta, tingkat kehadiran peserta kali ini sangat istimewa dan lengkap. Dari 21 negara ekonomi, seluruhnya mengirimkan perwakilan high-level, chief executive officer (CEO). Ini jarang terjadi dalam rapat pembuka tahun-tahun sebelumnya.

“Ini kesempatan yang luar biasa bagi kami di ABAC Indonesia untuk mempromosikan kesempatan dan peluang yang ada,” kata Shinta.

ABAC Meeting I 2026 akan membahas 5 topik utama terbagi dalam 4 working group dan 1 task Force, yaitu Working Group I Regional Economic Integration, Working Group II Sustainability, Working Group III Digital and Innovation, Working Group IV Connectivity dan Task Force Finance and Economics.

Indonesia mendorong forum ini untuk menjadi katalis bagi penguatan perdagangan, investasi, dan kolaborasi ekonomi yang lebih terbuka dan berkelanjutan di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.

Seluruh pembahasan dalam rapat tersebut akan menghasilkan rekomendasi kebijakan (policy recommendations) yang akan disampaikan kepada pemerintah negara-negara APEC dan para Pemimpin Ekonomi APEC pada akhir rangkaian pertemuan.

Setelah pertemuan di Jakarta, rangkaian ABAC 2026 akan dilanjutkan dengan ABAC Meeting II di Mexico City, Meksiko (22–25 April 2026), ABAC Meeting III di Pattaya, Tailan (7–10 Juli 2026), dan ABAC Meeting IV di Shenzhen, China (14-16 November 2026).

Acara ini disponsori oleh Sinarmas, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), HARUM energy, BYD, PT Bank Mandiri (Persero), dan LESSO. Dengan mitra strategis yaitu RGE (Royal Golden Eagle) Group dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek Group) , serta didukung oleh Bluebird Group, Alun Alun Indonesia, Sarinah, Mustika Ratu, dan PT. VKTR Teknologi Mobilitas Tbk.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *